Saturday, November 3, 2012

Belajar pada Sosok Kesayangan-Nya..

Beberapa malam yang lalu saya terlibat diskusi dengan istri tercinta. Rupanya istri sedang membuat sinopsis dari sebuah buku yang mengupas sosok manusia yang wajib untuk kita teladani. Banyak hal-hal dari sisi sejarah yang ternyata selama ini penulis juga belum ketahui. Siapakah teladan kita kali ini.....  ya... beliau adalah Bapaknya para Nabi, Nabi Ibrahim 'alaihissalam.... secara ringkas, inilah yang kali akan penulis sharing kepada para pembaca pada tulisan kali ini...  Selamat Membaca..


BAB I. INSAN TELADAN SEPANJANG ZAMAN 
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia.” (QS. Al Mumtahanah,60:4)

Karakteristik Kaum Nabi Ibrahim AS.
Allah menyatakan bahwa Nabi pertama adalah Nabi Adam as diikuti oleh Nabi Nuh as hingga pada penerusnya,Nabi Ibrahim as. (QS. As Shaffat,37:83).
Kebanyakan keturunan Nabi Ibrahim as juga menjadi Nabi, seperti Nabi Ishaq, Nabi Yaqub, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yunus dan Nabi Isa as.
Sumber sejarah mencatat bahwa Nabi Ibrahim as tinggal di Mesopotamia, Timur Tengah. Kemudian hingga waktunya untuk membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as melakukan perjalanan ke Mekah, Arab.
Alqur’an menyatakan bahwa kaum Nabi Ibrahim as adalah kaum pagan (penyembah berhala).
Fakta sejarah dan Arkeolog pun menemukan tanah timur tengah adalah tanah paganisme, berdasarkan bukti penggalian yang dilakukan di Mesopotamia terdapat kuil, patung dari tanah liat dan batu sebagai sesembahan mereka.

Allah Melimpahkan Kenabian Kepada Nabi Ibrahim As.
Seluruh umat yang pernah ada di dunia pasti menyadari keberadaan Allah yang Maha Esa, KekuasaanNya, KekuatanNya yang tak terbatas. Termasuk hari penentuan dan apa yang Allah inginkan dari para hambaNya. Allah menyatakan kebenaran ini melalui ayatNya:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umatnya (untuk menyerukan),’ sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thagut itu, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan adapun diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). “(QS. An Nahl, 16:36).

BAB 2
AGAMA NABI IBRAHIM AS

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kesayanganNya.” (QS. An Nisa,4: 125).
Manusia berdebat mengenai agama Nabi Ibrahim as, dan Allah menanggapi bantahan kaum yahudi dan kaum nasrani tersebut dalam AlQur’an. “Hai Ahli kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan kecuali setelah Ibrahim. Apakah kamu tidak berfikir? Beginilah kamu selalu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Imran,3:65-66)
Al Qur’an merupakan sumber pengetahuan yang paling akurat tentang agama Nabi Ibrahim as. “Ibrahim bukan seorang yahudi dan bukan pula seorang nasrani, melainkan dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang yang musyrik.”(QS. Al Imran,3:67).

Sifat yang paling hanif dari Nabi Ibrahim as adalah keyakinannya terhadap Allah yang Tunggal, Ketundukkannya kepada Allah. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab,’aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam!” (QS. Al Baqarah,2:131)

Nasihat Nabi Ibrahim as kepada Orang yang tidak beriman, kepada Ayahnya, kepada kaumnya.
  • Contoh percakapan Nabi Ibrahim kepada orang yang tidak beriman, Raja Namrud. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan Yang mematikan. Orang itu berkata, ‘saya dapat menghidupkan dan mematikan. Ibrahim berkata,’ Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah ia dari barat’,lalu terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zalim.”(QS. Al Baqarah,2:258).
Penjelasan dalam menyampaikan kebenaran dilakukan dengan kebijaksanaan, efektif tanpa ada kata yang tidak bermakna dan logis untuk menurunkan kesombongan bahwa kekuatan manusia ternyata terbatas.
  • Contoh percakapan Nabi Ibrahim as kepada Ayahnya.
“(Ibrahim berkata,)’ wahai Bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya, syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai Bapakku,sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.’Berkata Bapaknya,’bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku,hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam. Menjauhlah dariku dan pergilah dari sini!’ Berkata Ibrahim,’Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.’(QS.Maryam,19:44-48).
Percakapan tersebut mengandung beberapa ajaran penting dari sikap nabi Ibrahim, yaitu keberanian, sikap rendah hati dan kesabaran yang paling mulia ketika beliau diusir.
   
  • Nabi Ibrahim as Berseru kepada Kaumnya.
“Ketika malam telah gelap,dia melihat sebuah bintang, (lalu) dia berkata, ‘inilah Tuhanku,’tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam.’Kemudian, tatkala dia mellihat bulan terbit,dia berkata,’inilah Tuhanku’ tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ‘sesungguhnya, jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.’ Kemudian, tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’ Maka, tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, ‘Hai Kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sekutukan. Sesungguhnya, aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan.” (QS. Al An ‘am,6:76-79).
Cinta Nabi Ibrahim as kepada Allah, keyakinan yag tulus, kesetiaan yang cermat ditunjukkan dalam caranya berkomunikasi kepada ayahnya, orang yang tidak beriman, kaumnya dengan berbagai analogi yang dipilihkan terbaik oleh Allah untuknya. Bahwa betapa sia-sia dan tidak logis paganisme, hanya karena menuruti kebiasaan nenek moyang mereka. Dan sesungguhnya hanya Allah yang menciptakan, menghancurkan atau memberi berkah di bumi untuk melayani manusia, memberikan keindahan, lahir, tumbuh, makan, minum, berjalan, singkatnya segala sesuatu yang hidup, bergerak hanya terjadi atas izin Allah.
Keyakinan yang tulus bahwa semua atas kehendak Allah, maka teori Darwinisme yang percaya bahwa semua hal yang hidup dan yang tidak hidup tercipta dengan sendirinya hingga terbentuk evolusi kehidupan merupakan kemustahilan. Bahwa dalam teori mereka apabila atom, enzim, hormon, protein lainnya bila dicampur dalam satu wadah, dipelihara selama yang mereka kehendaki akan terbentuk sel makhluk hidup.

Perjuangan Intelektual Nabi Ibrahim As.
Kaum Nabi Ibrahim as yang cukup banyak memperlakukan beliau dengan ancaman kematian, pembakaran dan pengasingan.
Dengan mengatakan beliau tengah sakit (dalam surah As Shaffat,37:85-90) maka kaum kafir berpaling membelakang karena takut tertular sakitnya, dengan begitu Nabi memiliki banyak waktu untuk menghancurkan berhala-berhala.
Nabi menunjukkan kepada mereka kesalahan dari sistem paganisme, dengan menghancurkan patung patung berhala tetapi mennyisakan patung yg paling besar agar ada yang bertanya kepadanya. Sehingga  Nabi Ibrahim as menjawab, “sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al Anbiyaa’, 21:63).
Karena marah akibat berhala-berhalanya dihancurkan, mereka memutuskan untuk membakar Nabi Ibrahim as sampai meninggal. Namun kematian hanya datang dengan seizin Allah, Pencipta segala hal, memerintahkanapi untuk menjadi dingin saat itu juga, kemudian kaum kafir terjebak dalam perangkapnya sendiri. (QS. Al Anbiya,21: 69-71).
  
Putra-Putra Nabi Ibrahim as: Nabi Ismail as Dan Nabi Ishaq as.
AlQuran memuji Nabi Ibrahim as karena berpaling kepada Allah dalam segala hal yang beliau lakukan,ketulusannya, doa-doanya yang bersungguh-sungguh, sikap tawakal dalam menghadapi segala masalah dan kesulitan merupakan contoh bagi seluruh orang beriman. Allah melukiskan berkahNya yang mulia yang telah Dia berikan kepada keturunan-keturunan Nabi Ibrahim as.


Pembangunan Ka’bah.
Al Quran menyatakan bahwa Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as membangun Ka’bah di Mekah seperti yang diungkapkan dalam ayat-ayat berikut.
  • QS.Al Imron,3:96-97
  • QS. Al Hajj,22:26-28
  • QS. Al Baqarah,2: 127

Ujian Yang Dihadapi Nabi Ibrahim AS.
Satu dari berbagai ujian Nabi Ibrahim as adalah perintah Allah melalui mimpi Nabi,  yaitu menyembelih putranya (Nabi Ismail as) ketika sudah memasuki umur, sedang sudah lama penantian kelahiran nya pula. Kemudian saat penyembelihan akan dilakukan, seekor qibas besar sebagai gantinya datang sebagai pertolongan Allah sekaligus menyudahi ujian ketunduk patuhan nabi Ibrahim as.

BAB 3
NILAI MORAL YANG BAIK
DARI NABI IBRAHIM AS

  1. Kesayangan Allah
  2. Mempunyai kekuatan, pandangan ke depan, kemampuan memilih yang benar
  3. Hamba suci yang selalu memikirkan tentang hari akhir
  4. Hamba Allah yang terhormat dan bijak
  5. Kesucian hati
  6. Seorang Imam
  7. Rasa syukur Nabi Ibrahim as kepada Allah SWT
  8. Bertawakal kepada Allah
  9. Kelembutan Hati
  10. Pemimpin menuju jalan kebenaran
Berpindahnya (hijrah) Nabi Luth as Dan Nabi Ibrahim as
(QS.Al Anbiyaa’,21:71-75)
Suatu pelajaran bahwa hijrah adalah pencarian keagamaan yang hanya dapat dilakukan bagi orang-orang beriman, Yang percaya kepada Allah dan mengetahui bahwa Dia akan melengkapi kebutuhan mereka setiap saat, harus mengikuti contoh para Nabi dalam bertawakal kepada-Nya. Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman sebagai balasan karena mereka tidak mengagungkan kebutuhan materi/duniawi. (QS. At Taubah,9:20-22).